TeenFic.Net Stories that stay with you ♥

THE PLEASANT TRAP

Sabtu pagi yang indah ini aku nikmati dengan segelas kopi hangat yang kubeli di coffee shop langgananku di lantai bawah apartemen. Biasanya aku menghabiskan weekend dengan Arabella, tapi hari ini dia bilang ada acara keluarga di luar kota mendadak. Terasa aneh memang, sejak Arabella putus dengan Charles tahun lalu, kami selalu menghabiskan akhir pekan bersama, aku pun tidak punya rencana akan ke mana atau apa yang mau kulakukan hari ini.

Baru aku mau beranjak dari sofa, HP ku berbunyi notifikasi WA. Aku kembali duduk dan mengecek HP.

Louise
Vienna, bisa kita ketemu hari ini?

Hah? Ini mengejutkan! Aku kira percakapan di WA kemarin sudah selesai, tidak akan ada kelanjutannya. Hari ini malah ia mau bertemu denganku? Sejujurnya, aku mengakui ada perasaan terlalu percaya diri, apa ia tertarik padaku? Tapi, setelah aku berpikir lagi, rasanya terlalu berlebihan. Vienna, sepertinya kau harus membawa cermin ke mana-mana!

Bagaimana aku harus membalas pesan ini? Aku tidak keberatan untuk bertemu dengannya, tapi aku juga gugup. Aku tidak terlalu terbiasa bertemu dengan orang baru, wait! Apalagi ini tanpa Arabella. Aku hanya akan berdua dengannya?

Bisa sih, di mana? Jam berapa?

2 menit kemudian ia membalas...

Aku jemput kamu, boleh? Jam 11 siang.

Jemput? Astaga. Kenapa aku jadi gugup? Aku melirik jam dinding, masih 3 jam lagi. Sudah lama aku tidak pergi berdua dengan seorang pria selain urusan bisnis. Tenang Vienna, anggap saja akan bertemu dengan customer, seperti biasa.

Aku membalas pesannya lagi bahwa aku oke dan mengirimkan lokasi apartemen ini. Aku harus berdandan kah? Atau pakai dress? Atau pakai pakaian casual? Oh dear!

***

Setengah jam yang lalu Louise mengabari bahwa ia sudah otw ke sini. Akhirnya, setelah hampir 2 jam aku menghabiskan waktu dengan lemariku untuk memutuskan memakai pakaian apa, hasilnya aku memakai blouse putih biasa, celana jeans biru yang baru kubeli kemarin, tas kecil yang berisi HP, dompet dan kunci apartemen, juga sepatu heels pendek. Gila! Aku menghabiskan banyak waktu dan overthinking, and then back to casual. Lelah rasanya.

Jam 11 kurang 5 menit aku turun ke lobby Apartemen, supaya ia tidak menungguku terlalu lama. Lift di apartemen ini kadang membuatku bisa menunggu sambil mengupas kuaci atau bisa ke kamar lagi mengambil HP tertinggal, ke toilet untuk buang air kecil, lalu kembali ke depan lift dan menunggu 5 detik baru terbuka.

"Vienna."

Aku mendengar namaku dipanggil. Ya, aku masih mengingat suara ini. Aku menoleh dan lagi-lagi ia mengejutkanku. Aku kira dia akan hanya menunggu di mobilnya, mengabariku kalau ia sudah sampai lalu aku menyusulnya. Tapi ia benar-benar menjemputku ke lobby.

"Oh, hai." Aku tidak bisa mengucapkan kata-kata lain. Kehadirannya memporakporandakan mental yang sudah aku siapkan -anggap saja akan bertemu customer- tadi. Ia begitu tampan dengan kemeja putih dan celana panjang jeans, juga sepatu putih. Thank God aku tidak tampil berlebihan. Eh, white and jeans? Kok sama?

Ia tersenyum tipis. "Ayo. Kita pergi."

Aku mengangguk dan mengikutinya. Tidak berani berjalan di sampingnya, aku berjalan agak di belakangnya. Ia tetap berjalan ke arah mobil BMW X3 Hitam miliknya yang kemarin kulihat di depan rumah Arabella. Ia tidak membukakanku pintu, tapi ia mempersilahkanku dengan sopan. Ya, kau berpikir berlebihan Vienna kalau ia harus membukakan pintu untukmu!

"Kita ke mana?" Aku memberanikan diri bertanya setelah ia menyalakan mesin.

"Hm, kita makan siang di restoran punya temanku. Oh ya, thank you ya Vienna, kamu mau ketemu aku hari ini." Ia tersenyum, kali ini ia benar-benar terlihat ramah.

"Oh, iya, gpp. Memangnya kamu ngga ikut acara keluarga?"

"Ngga, sebenarnya tante Victoria yang kasih aku saran buat ajak kamu pergi. Katanya, kalo Bella ngga dipisahin dari kamu, aku ngga akan bisa ajak kamu pergi. Makanya mereka buat acara dadakan."

WHAT?

Untunglah aku menekan perasaanku yang over PD menyangka ia tertarik padaku. Tante Victoria di balik ini ternyata! Iya sih, ia sangat menyayangiku seperti anak sendiri, tapi belom pernah ia melakukan hal seperti ini.

"Sorry ya, Vienna. Kamu gpp kan?"

Aku terlalu hanyut dalam pikiranku. "Yaa, agak kaget aja sih." jawabku sambil tersenyum.

"Ya, aku ngerti sih. Tante Victoria mau aku coba untuk kenal kamu, dia tau aku workaholic, aku ngga punya waktu untuk kenal cewek atau pacaran." Ia terdengar serius.

"Tapi kamu ngga terpaksa kan ini?"

Ia tertawa. Pertama kalinya aku melihat ia tertawa. "Ngga kok. Aku ngga mungkin mau kalo aku ngga suka."

Deg! Apa tadi katanya? Suka? Suka bagaimana maksudnya?

"Vienna, kamu suka makanan apa?"

Jantungku belum stabil, aku berusaha menenangkannya. "Hmm, macam-macam sih, aku ngga terlalu pemilih. Tapi kalo ditanya makanan favorit, mungkin simple aja, nasi goreng, sate, bakso. Kalo kamu?"

Ia tampak aneh dengan jawabanku. "Aku suka steak sih. Ini kita ke western reastaurant, gpp?"

Oh, aku terlalu merakyat ya sepertinya? Memang sih, sekelas Louise pasti lebih suka makanan mewah, tapi Arabella kenapa seleranya sama denganku?

"Gpp kok, kadang Arabella juga suka ngajak makan western, ya suka-suka aja sih."

"Nanti next time kita ke Indonesian Restaurant juga oke. Udah lama juga aku ngga makan makanan Indonesia."

"Memangnya kamu sebelumnya tinggal di luar negeri?"

"Ya, di US, dari High School, lanjut kuliah di New York. Baru setahun ini pulang ke Indonesia karena papa minta aku pegang di perusahaan. Oh ya, kata tante Victoria kamu pegang di Sleepwell ya?"

"Ya, aku dipercaya jadi Manager Marketing Sleepwell. Aku baru tahu ternyata kamu di Majestic."

"Ya, apa kamu mau pindah ke kantorku?"

Aku tertawa. "Ngga deh, kayanya makin pusing di Majestic, terlalu mewah."

"You should try first."

Kita pun tiba di restaurant. Louise memarkirkan mobilnya lalu mengajakku masuk. Kesan pertama yang aku dapatkan begitu masuk adalah mewah, dekorasinya modern, dengan lampu-lampu yang indah, music jazz. Saat ini retaurant sedang ramai, meja-meja hampir penuh, banyak pelayan berseliweran. Aku tidak yakin kita akan dapat meja.

"Selamat siang Pak Louise." Seorang wanita tiba-tiba menghampiri kami dan menyapa Louise.

"Siang, wah padat juga, Ros." jawab Louise sambil memperhatikan suasana restaurant.

"Iya pak. Sabtu-Minggu sih pasti rame pak, tapi tenang, meja sudah disiapkan pak."

"Thank you. Dexter ke sini ngga Ros?"

"Ke sini pak. Katanya karena pak Louise mau ke sini jadi beliau datang."

"Oke."

Aku menebak sih wanita tadi Manager Restaurant. Ada pin nama di seragamnya, Rosana. Aku tersenyum padanya sebelum mengikuti Louise ke arah meja yang sudah disiapkan. Ternyata yang dimaksud adalah VIP Room di lantai 2, ngga besar sih ruangannya, khusus fine dining 2 orang dengan city view. Aku belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, bahkan Arabella tidak pernah mengajakku ke tempat seperti ini. Kita biasa makan di kafe yang lagi viral di sosmed atau yang menjadi tempat favorit kita.

Kami duduk lalu melihat-lihat menu. Aku lebih shock lagi melihat harganya. Semuanya di atas 500 ribu, kecuali minuman. Minuman pun di atas 50 ribu.

"Vienna, kamu mau pesan apa?" Louise bertanya, sepertinya ia sudah menentukan pilihan.

"Hmmm, kamu mau merekomendasikan?"

"Boleh," Louise lalu memesan makanan pada pelayan yang dari tadi menunggui kami. Entah namanya apa, aku mendengar Hokkaido Wagyu? Lalu Hitachi Gyu? Entah apa itu. Selesai mencatat pesanan, pelayan itu pergi. Hanya kami berdua di ruangan ini. Aku sudah tidak terlalu gugup, ia cukup menyenangkan mengobrol di mobil tadi.

Untuk sesaat ia diam, menatapku dan berhasil membuatku kikuk, lalu ia mengecek HP nya sebentar dan menatapku lagi. Ia punya pesona yang susah untuk ditolak, aku berusaha menolak menatapnya, tapi setelah itu aku menginginkan tatapan itu lagi.

"Vienna, kamu tinggal sama orang tuamu?" ia akhirnya membuka pertanyaan lagi. Sebenarnya aku mau bertanya banyak hal seperti bagaimana rasanya tinggal di luar negeri? Apakah ia punya mantan bule yang cantik? Tapi aku terlalu gugup menanyakan hal-hal yang pribadi.

"Ngga. Aku tinggal sendiri di apartemen tadi. Itu juga hadiah ulang tahun dari tante Victoria dan om Petra."

"Oh ya? Wah, aku baru tau mereka sebaik itu."

"Ya, walaupun aku jarang ngobrol sama om Petra, tapi beliau dan tante Victoria sudah seperti orang tuaku. Arabella udah lebih dari sahabat buat aku. Jadi, tadinya aku kost dari SMA karena jarak rumah sama sekolah lumayan jauh, lulus SMA, aku ulang tahun dikasih apartemen itu."

Louise mengangguk-angguk. "Orang tua kamu ada di mana?"

"Papa sudah meninggal, tinggal mama. Sejujurnya aku bukan dari keluarga kaya Lou, biasa aja. Aku bisa sekolah di international School karena beasiswa, kuliah juga beasiswa." Entah kenapa aku jadi terbuka padanya.

"Itu artinya kamu pintar." katanya sambil tersenyum.

Ya, aku mengakuinya. Aku belajar keras untuk itu. "Kalo kamu kenapa memutuskan sekolah di US?"

"Aku sebenernya pengen di Jepang, tapi papa menyarankan sebaiknya di US, sama seperti beliau. Ya, sama kaya Bella kemarin, kita susah menolak kemauan orang tua kita. Tapi aku ngga menyesal, aku belajar banyak juga di sana."

"Ya, aku kagum sih Arabella sangat menghormati papa mama nya. Mereka panutanku banget sih, nanti kalau aku berkeluarga, aku juga pengen kaya mereka."

Lagi-lagi Louise mengangguk dan tersenyum. "Suamimu nanti pasti beruntung, Vien."

Aku hanya tersenyum. Sebersit pikiranku, mungkinkah itu Louise? Aku cepat-cepat menghapus pikiran itu.

Seseorang mengetuk lalu membuka pintu. Sambil tersenyum, seorang laki-laki berambut ikal, berwajah agak bule masuk ke ruangan VIP ini. "Hai Lou! Wah akhirnya ke sini lagi lo!"

Laki-laki itu menghampiri Louise yang sudah berdiri, bersiap menyambutnya. "Iya bro. Baru sempat nih." mereka berpelukan singkat. "Kenalin nih, Vienna."

"Halo, I'm Dexter." kami bersalaman. "Pacar nih, bro?"

Louise tersenyum. "Belom, belom."

Belom? Kan bisa saja dia menjawab bukan. Kenapa belom? Kalau belom kan berarti ada kemungkinan nanti bisa jadi...

***

Jam 4 sore aku baru sampai di apartemen. Aku merebahkan diri di sofa, mengingat lagi pertemuan tadi. Aku meraba perasaanku, apakah aku jatuh cinta pada Louise? Aku tertarik pada pesonanya, wajahnya, caranya bicara, caranya tersenyum. Ia terlalu sempurna dan aku masih merasa tidak layak kalau aku bersanding dengan kesempurnaannya. Aku ingin sekali bercerita pada Arabella tentang hal ini, tapi sayangnya Louise memintaku untuk tidak menceritakan dulu tentang pertemuan ini pada Arabella, ia berfikir Arabella tidak menyukainya dan takut ada hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi, entah apa maksudnya.

Tiba-tiba HP ku berbunyi.

Mama

Aku mengangkatnya. "Ya ma?"

"Halo Vien, bagaimana kabarmu? Kamu jarang telepon mama."

"Iya ma, aku sibuk kerjaan di kantor, hari ini abis pergi, ini baru pulang."

"Oh gitu. Sesekali jangan lupa kontak adikmu."

"Ya ma. Udah dulu ya ma, aku mau mandi dulu."

"Ya nak. Baik-baik ya."

"Ya, mama juga."

Aku memutus sambungan telepon, meletakkan kembali HP ku di atas meja lalu menyalakan TV dan melanjutkan nonton Love is Blind.

***

You are reading stories on: TeenFic.Net

Tags: