Bagian 3 - Hari Kedua

Background color
Font
Font size
Line height

Suara gaduh membuat Ryujin terbangun dari tidurnya. Kedua matanya yang masih terasa berat itu segera ia buka. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Tubuhnya ia gulirkan ke kanan dan ke kiri, menikmati betapa empuknya kasur yang ia tiduri.

Sebentar.

Kedua indra penglihatannya sontak terbuka. Ia bahkan segera mendudukkan dirinya. Ia berada di atas matras?

"Beomgyu?"

Ryujin merasa saat ini ruangan terasa sedikit terang. Mungkinkah pintunya telah terbuka?

'brak'

Ryujin menoleh ke arah sumber suara. Sebuah kursi rusak terjatuh.

"Jaring sialan!"

Itu Beomgyu yang mengumpat. Pria itu tengah berada di atas meja. Kakinya terjerat net putih yang menyebabkan ia kehilangan keseimbangan hingga membuat satu kursi terjatuh ke lantai.

Ryujin bisa melihatnya karena ruangan sudah sedikit lebih terang. Jaring yang menjerat kaki pria itu itu adalah net yang kemarin ia simpan.

"Lo ngapain?"

Beomgyu turun dengan hati-hati setelah kakinya terbebas. "Ada beberapa ventilasi udara. Tapi ditutup pake papan. Kayanya biar gak ada hewan yang masuk."

Satu informasi baru bagi Ryujin. Jadi siang ini ia tidak perlu menggunakan senter di ponselnya. Teringat hal itu, ia lantas memeriksa kembali ponselnya.

08.05 WIB

19%

Sepertinya Ryujin tertidur cukup lelap. Padahal ia tengah berada di ruangan yang menyedihkan. Mungkin karena kemarin ia kelelahan sehabis latihan, berjuang untuk membuka pintu, hingga mengobati pasien bertubuh biru.

Beomgyu sudah berada di sisinya. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Gue gak ngapa-ngapain lo, tenang aja. Gue gak ada nyentuh lo sama sekali."

Entah Ryujin harus percaya atau tidak, tapi bagaimana bisa dirinya tiba-tiba berada di atas matras?

Seolah Beomgyu bisa menebak isi pikiran Ryujin, pria itu kembali berkata, "Lo sendiri yang naik ke matras. Lo bilang dingin."

Baiklah, pernyataannya yang kedua itu membuat Ryujin tidak bisa mengelak. Pasalnya, ia memang cukup sering seperti itu. Seperti saat ia ketiduran waktu belajar Sosiologi di meja belajar, di pagi harinya ia sudah berada di atas kasur. Atau ketika ia bermalam di rumah Lia untuk mengerjakan tugas, Lia mengatakan bahwa di tengah malam Ryujin tiba-tiba saja ingin pindah ke kasur. Padahal sebelumnya ia sangat yakin untuk tidur di karpet.

"Terus lo?" tanya Ryujin kemudian.

"Penting gue tidur dimana?"

Lagi-lagi jawaban Beomgyu membuat Ryujin berdecak kesal. "Masalahnya gue gak enak. Soalnya lo lagi luka."

"Gak enak tapi tidurnya pules banget."

Ryujin hanya menunjukkan cengirannya. Membuat lesung di pipi atasnya kembali terbentuk.

"Kondisi lo gimana?" Ryujin memilih topik baru.

"Udah bisa jalan."

Ryujin mengangguk-anggukkan kepalanya. Itu suatu kemajuan bukan? Setidaknya luka pria itu tidak tambah parah.

Tiba-tiba saja perut Ryujin merasa sangat lapar. Sebenarnya sejak semalam juga sudah lapar, namun masih bisa ia tahan. Tapi sekarang, rasa laparnya semakin perih di perut. Terakhir kali ia makan itu kemarin pagi sebelum latihan.

Ryujin memeluk perutnya sendiri. Ia kemudian meraih botol minum dalam tasnya dan digoyang-goyangkan untuk menerka seberapa banyak lagi air di dalamnya. Mungkin satu tegukan bisa membuat laparnya sedikit mereda.

"Lo gak bawa makanan di tas lo?"

Ryujin menggeleng.

"Bukannya si Adam pacar lo itu suka ngasih makanan tiap latihan?"

"Bukan pacar gue!" bantah Ryujin.

Ryujin jadi teringat. Sejak beberapa minggu terakhir, pria itu memang cukup sering mampir dan memberinya beberapa camilan dan minuman setiap latihan. Namun latihan kemarin, pria itu tidak datang. Bukannya Ryujin berharap juga. Hanya saja itu berarti ia tidak memiliki makanan.

Tiba-tiba Ryujin sadar akan sesuatu. "Kok lo tau Adam suka ngasih gue makanan?"

Beomgyu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. "Semua orang juga tahu."

Ryujin berpikir sejenak. Masalahnya, yang tahu Adam sering datang dan memberinya makanan itu hanya anak-anak volly. Atau mungkin, Beomgyu tahu itu karena Adam juga anak boxing?

"Lo beneran gak punya makanan? Gue juga ikut laper soalnya." Ucapan Beomgyu membuyarkan pikiran Ryujin.

Meskipun tidak yakin, Ryujin mencoba mengecek isi tasnya. Siapa tahu ia pernah menyimpan camilan di sana yang belum termakan. Tapi seingatnya, ketika berangkat latihan kemarin ia tidak melihat makanan barang sedikitpun.

Ryujin mengeluarkan satu persatu isi tasnya. Jaket, sandal, kaos cadangan, satu pouch skincare, dompet, earphone, dan satu keresek putih?

Tunggu, keresek putih itu sama seperti keresek yang selalu dikirim Adam padanya. Tapi bagaimana mungkin? Ia sungguh yakin bahwa kemarin Adam tidak menemuinya.

Keresek putih itu segera ia buka. Kali ini isinya hanya satu bungkus coklat batang berwarna ungu, dan susu kotak rasa coklat berukuran sedang.

Ryujin menolehkan pandangannya pada Beomgyu. Terdapat binar bahagia di kedua matanya. Itu berarti ia bisa memakan sesuatu.

"Ada makanan?!" seru Ryujin antusias.

Beomgyu hanya ikut tersenyum. "Lo rela bagi-bagi, 'kan?" tanyanya memastikan.

Ryujin sontak tertawa. Sepertinya itu adalah kali pertama ia tertawa sejak terkunci kemarin.

Beomgyu merasa hatinya sedikit menghangat.

Ryujin menganggukkan kepalanya pertanda ia rela berbagi. "Tapi kita hemat ya? Takutnya, pintunya beneran dibuka besok."

-0-

15.30 WIB

14%

Ryujin dan Beomgyu mulai membicarakan banyak hal. Tentang sekolah, teman-teman, guru, hingga skandal yang pernah terjadi. Sebenarnya Ryujin yang lebih banyak bertanya, dan Beomgyu hanya menjawab seperlunya.

Itu adalah kali pertama Ryujin mengobrol panjang lebar dengan Beomgyu. Ternyata pria itu cukup nyaman menjadi teman berbincang. Meskipun terkadang jawabannya sedikit menyebalkan.

Ryujin duduk di atas matras dengan bagian atas tubuhnya bersandar di dinding. Sedangkan Beomgyu berbaring di sampingnya, dengan posisi sebaliknya. Sehingga hanya kaki mereka saja yang bersampingan.

"Semalam lo bilang Adam yang kunci gudang? Kok bisa?"

Beomgyu membuang nafas gusar. "Karena sekarang gue tau kalo Adam bukan pacar lo, kayanya gue harus cerita."

"Soal?"

Beomgyu membenarkan posisi berbaringnya. Kedua tangannya ia silangkan ke belakang kepala sebagai bantalan.

"Gue tahu si Adam ngincer lo sejak awal kelas 12. Dia confess langsung, 'kan?"

Ah, Ryujin ingat momen memalukan itu. Ia sedang makan bekal siangnya di kelas bersama teman-temannya, lalu pria itu datang membawa setangkai bunga mawar dan surat. Klasik. Karena kasihan, Ryujin mengajak pria itu keluar kelas dan menolaknya selembut mungkin agar tak menyakiti hatinya.

"Gue pikir lo terima dan kalian jadian."

"Hampir satu kelas berpikiran sama kaya lo."

"Ya lo juga sering dianter jemput sama si buaya itu kan? Sering dikasih gift juga, gimana orang gak mikir kalian pacaran?" Beomgyu tiba-tiba saja nyerocos.

Ryujin kembali mendengus kesal. "Terus hubungannya sama ngunci gudang itu apa?"

Beomgyu beranjak. Kakinya dilipat. Sekarang ia berhadapan langsung dengan Ryujin.

"Lo tau? Dia cowok gak bener. Gue sering mergokin dia sama cewek lain tiap ekskul. Kita satu ekskul kan di boxing. Pokonya tiap before or after, dia selalu sama cewek yang berbeda. Tapi kemudian pas sekolah, dia tiba-tiba sama lo. Berengsek!"

Kali ini Ryujin cukup tertarik dengan pembahasannya.

"Sekali dua kali, gue masih diemin."

"Bentar, Adamnya tau kalo dia sering kepergok sama lo?" sela Ryujin di tengah-tengah cerita.

"Ya tau. Tapi guenya disogok terus. Mungkin karena gue sekelas sama lo, jadi dia takut gue bilangin ke lo kalo dia selingkuh."

"Lah, orang pacaran aja enggak."

"Ya kan gue gak tau."

"Kok lo mau disogok?"

"Win-win soalnya." Beomgyu terkekeh.

"Disogok pake apa?"

"Itu, gue gak bisa bilang."

Jawaban itu membuat Ryujin sedikit kecewa.

Beomgyu melanjutkan ceritanya. "Udah 4 kali gue mergokin dia sama cewek. Tapi lama-lama gue gak tahan. Akhirnya gue bersumpah kalo sampe 5 kali, bakal gue hajar. Dan ternyata bener. Kemarin adalah yang ke-5 kalinya gue mergokin dia selingkuh. Dia ciuman di tempat yang sama. Di pojok kelas IPS 4."

Ada sedikit rasa pedih sebenarnya di hati Ryujin saat mendengar cerita Beomgyu barusan. Ia memang menolak Adam. Tapi, sejauh ini Adam bersikap sangat manis padanya. Terkadang menjemputnya, mengantarnya pulang, dan memberinya makanan setiap latihan.

"Gue langsung hajar dia di tempat. Udah gedeg banget gue." Beomgyu menjeda ucapannya. "Tapi apesnya, kemarin gengnya dateng. Jadi ya, ujungnya jadi gue yang dihajar."

Ryujin meringis membayangkan kejadian itu.

"Lo gak ngelawan?"

"Satu lawan satu mah ayo. Satu lawan lima, ya bubuk."

"Terus lo dipukulin sampe pingsan gitu?"

"Gak lah. Gue pake strategi," jawab Beomgyu dengan bangga.

"Strategi apa?"

"Pura-pura pingsan."

"Hah?"

"Ya pas gue dihajar dan gak bisa ngelawan, gue pura-pura pingsan. Soalnya kalo gak gitu, mereka bakal terus hajar gue. Dan itu berhasil. Tapi gue gak tau kalo bakal dikunci di gudang." Beomgyu tertawa miris sekarang.

Ryujin bingung harus merespon bagaimana. Haruskan ia menunjukkan empati atau haruskah ia tertawa karena ujung ceritanya sedikit jenaka. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut tertawa miris.

"Tapi lo tau?" raut wajah Beomgyu menjadi lebih serius.

"Apa?"

"Gue jadi lebih tenang karena ada lo di sini."



- bersambung -


You are reading the story above: TeenFic.Net